Komentar Polisi Soal Kabar Deasy Tuwo Sengaja Dilempar Ke Sarang Buaya Sampai Tewas Diterkam
Deasy Tuwo.Foto: Istimewa |
Santer beredar kabar bahwa maut Deasy Tuwo bukanlah di hari yang sama ketika ditemukan warga dan pekerja di penangkaran buaya milik warga negara absurd di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Wanita anggun berusia 44 tahun itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tubuh warga Desa Suluun, Kecamatan Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan, tersebut penuh luka tanggapan gigitan buaya.
Polres Tomohon belum berhenti pada kesimpulan bahwa korban meninggala alasannya dimakan buaya. Polisi masih mendalami awal mula dan mengapa Deasy Tuwo hingga dimakan buaya.
Hal tersebut diungkapkan Kapolres Tomohon AKBP Raswin Bachtiar Sirait, melalui Wakapolres Kompol Joyce Wowor.
Melansir Pojoksatu.id, kata Wowor, pihaknya masih melaksanakan investigasi ke semua pihak yang berafiliasi dengan meninggalnya korban, Jumat (11/1) lalu.
“Masih dilidik (penyelidikan) oleh petugas di lapangan. Semua yang mempunyai sangkut paut dengan korban. Baik pekerja, pemilik, keluarga hingga saksi yang pertama kali menemukan korban,” ungkap Wowor, menyerupai dilansir manadopost, Senin 14 Januari 2019.
Menurut Wowor, beberapa bukti-bukti guna menopang jalannya proses penyidikan, sudah dikantongi penyidik. Termasuk, dengan hasil otopsi korban.
“Namun khusus untuk hasil otopsi belum dapat kita beber. Masih menjadi konsumsi internal, guna pengembangan dan penyimpulan masalah yang jarang terjadi ini,” sambung Wowor.
Kapolsek Tombariri Iptu Jantje Untu menambahkan, semua pihak yang terlibat, kooperatif dan bekerja sama dengan baik dengan petugas penyidik.
Seperti Wowor, Iptu Jantje Untu pun enggan berkomentar banyak soal update masalah meninggalnya Deasy Tuwo yang tewas mengenaskan dimakan buaya.
“Tunggu saja hasil investigasi jenazah,” tandas Kapolsek.
Sebelumnya, petugas pemusalaran mayat RSUP Kandau Malalayang, Meikel Mokodompit mengaku kaget ketika melihat kondisi mayat Deasy.
Maikel mengaku, selama delapan tahun menjadi personel di unit pemulasaran mayat RSUP Kandou Malalayang, gres kali ini ia memandikan badan korban tanggapan gigitan buaya.
Bersama tiga rekan lainnya, Maikel memandikan mayat tersebut. Proses pemandian tak lama, tak hingga 30 menit.
Ia menggambarkan, ketika itu pecahan tubun Deasy Tuwo sudah nyaris habis. Hanya tersisa kepala dan dua kaki. Tangan pun sudah raib.
“Kemungkinan buaya itu menerjangnya dari pinggir. Mungkin juga alasannya masih kenyang, makanya tak makan hingga habis,” jelasnya.